Aku adalah lelaki, maka pada kodratnya aku tak akan pernah mengerti wanita.
Tapi, entah kenapa kali ini seolah aku mengerti satu bagian dari sikapmu.
Tapi, entah kenapa kali ini seolah aku mengerti satu bagian dari sikapmu.
Diam.
Diammu, berarti tidak untukku.
Maka, apakah rumah tetap rumah, jika ia tidak mengakuimu sebagai pemiliknya?
Apakah rumah tetap rumah, jika ia menolak membiarkanmu pulang?
Baginya bukan, tapi tidak bagiku.
Aku pernah kehilangan rumahku.
Aku pernah pergi, dari satu tempat ternyaman, demi tempat-tempat lain yang kupikir lebih nyaman.
Aku pernah pergi, dari satu tempat ternyaman, demi tempat-tempat lain yang kupikir lebih nyaman.
Tapi aku salah, juga lelah.
Aku kehilangan tempat ternyaman, dan tak menemukan yang lebih darinya.
Aku pengembara tanpa rumah, berjalan tanpa arah.
Aku lelah.
Aku pengembara tanpa rumah, berjalan tanpa arah.
Aku lelah.
Dan akhirnya kini, aku menemukan kembali tempat itu.
Tempat yang aku pernah begitu betah di dalamnya.
Tempat yang selalu menanti kepulanganku.
Tempat yang aku pernah begitu betah di dalamnya.
Tempat yang selalu menanti kepulanganku.
Aku menemukannya lagi. Aku menemukanmu.
Lantas, apakah mungkin aku membiarkannya hilang lagi?
Mengulang penyesalan bertahun-tahun, yang bahkan bertahan hingga kini?
Mengulang penyesalan bertahun-tahun, yang bahkan bertahan hingga kini?
Tidak, tentu tidak.
Aku akan memperjuangkannya.
Memperjuangkan hal yang memang harusnya menjadi milikku.
Memperjuangkan hal yang memang harusnya menjadi milikku.
Meski rumah itu menolak untuk ditinggali.
Meski rumah itu tak lagi menunggu kepulanganku.
Meski rumah itu tak lagi menunggu kepulanganku.
Aku tetap akan memperjuangkannya.
Janji itu, janji yang pernah jadi tujuan hidupku.
Janji yang jadi kunci, pembuka pintu rumah terindahku.
Janji itu, janji yang sama seperti kepergianmu sebelumnya.
Janji itu, bahwa aku akan memperjuangkanmu, menunggu, hingga pintu itu terbuka lagi untukku.